Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Malam Pertama Sesuai Sunnah ?


Setelah selesai acara akad nikah dan walimah, pengantin laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kamar pengantin berdua saja. Inilah yang disebut dengan khalwah, yang sering disebut dengan istilah 'malam pertama'. Padahal kejadiannya tidak selalu malam hari. Khalwah bisa dilakukan pagi hari, siang, atau sore hari. Yang jelas, setelah selesai akad nikah. Disebut 'pertama', karena itulah pertemuan pertama setelah mereka berdua resmi menjadi suami dan istri.

Menurut Dr. Wahbah Az-Zuahili dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu, khlawah adalah 'berkumpulnya istri dan suami setelah akad nikah yang sah, di suatu tempat yang memungkinkan bagi keduanya untuk bermesraan secara leluasa, dan keduanya merasa aman atau terjamin dari datangnya seseorang kepada mereka berdua. Pada mereka berdua tidak ada sesuatu penghalang yang bersifat alami, atau jasmani, atau syar'i, yang dapat mengganggu mereka berdua dalam bermesraan atau bercumbu.


Ternyata malam pertama menurut tuntunan Islam bukanlah malam bebas semau pengantin sendiri untuk melakukan apapun yang di suka. Ada sejumlah tuntunan yang di sunnah kan untuk dilakukan pada malam pertama tersebut. Jika istri sudah mendahului berada di kamar, pihak laki-laki mengetuk pintu perlahan-lahan sembari mengucapkan salam yang lembut bagi istrinya yang telah menunggu di dalam. Segera suami masuk ke dalam kamar dan melakukan hal-hal berikut ini.

Pertama, Suami mengucapkan salam


Suami hendaknya mengucapkan salam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) kepada istri ketika menemui istri atau masuk ke kamar pengantin, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam. Hal ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan rasa cemas dari hati mempelai istri dan menumbuhkan rasa di cinta

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam  bersabda:

أَفَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Maukah kalian aku beritahukan satu hal yang apabila kalian praktikkan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, memegang ubun-ubun istri


Pada malam pertama, dianjurkan kepada suami agar meletakkan tangannya pada ubun-ubun istri untuk mendoakan keberkahan bagi istri. Rasulullah Saw bersabda : "Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah 'basmalah' serta doakanlah dengan doa berkah". Hadits Riwayat Abu Dawud no. 2160, Ibnu Majah no. 1918, al-Hakim II/185 al-Baihaqi VII/148.

Ketiga, mendoakan istri


Sambil meletakkan tangan di ubun-ubun istri, suami dianjurkan untuk membaca doa keberkahan bagi istri. Adapun doa yang dibaca adalah :

"Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a'udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih. (Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.)" Hadits Riwayat Abu Daud, no. 2160; Ibnu Majah, no. 1918. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Keempat, shalat sunnah pengantin


Dianjurkan bagi kedua mempelai untuk mengerjakan shalat sunnah dua raka'at. Ingat, ini dilakukan hanya berdua saja, oleh suami dan istri. Jangan mengajak orang tua, mertua, apalagi tetangga. Suami menjadi imam, dan istri menjadi makmum.

Syaikh Al-Albani menyatakan, "Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf --yakni Sahabat dan Tabi'in--. Di antara sandarannya adalah hadits dari Abu Sa'id, ia berkata: "Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya 'Abdullah bin Mas'ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu 'anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: 'Kamulah (Abu Sa'id) yang berhak!' Ia (Abu Dzarr) berkata: 'Apakah benar demikian?' 'Benar,' jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, 'Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka'at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua." Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan 'Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192).

Kelima, membaca doa setelah shalat sunnah pengantin


Berdasarkan hadits dari Abu Waail, ia berkata, "Seseorang datang kepada 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, lalu ia berkata, 'Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.' 'Abdullah bin Mas'ud berkata, 'Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka'at di belakangmu. Lalu berdo'alah : "Allahumma baarikli fi ahli, wa baarik lahum fi, Allahummarzuqni minhum, warzuqhum minni, Allahummajma' bainana maa jama'ta ila khair, wa farriq bainana idza farraqta ila khair. (Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.)" Hadits Riwayat 'Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf VI/191, no. 10460, 10461.

Keenam, Bersiwak (sikat gigi) sebelum bersenang-senang


Ajaran Islam sangat memperhatikan kebersihan, terutama kebersihan mulut. Kedua mempelai sangat dianjurkan untuk bersiwak sebelum menikmati malam pertamanya. Sehingga bau mulut tidak mengganggu keduanya saat memadu kasih

Ketujuh, bersenang-senang dan bercumbu rayu di malam pertama


Di antara sunnah kenabian pada malam pertama adalah bersenang-senang dan bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kehangatan. Hal ini berdasarkan hadits Asma' binti Yazid binti as-Sakan ra, ia berkata: "Saya merias 'Aisyah untuk Rasulullah Saw. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada 'Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping 'Aisyah. Ketika itu Rasulullah Saw disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada 'Aisyah. Tetapi 'Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu. 'Asma binti Yazid berkata: "Aku menegur 'Aisyah dan berkata kepadanya, 'Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah Saw". Akhirnya 'Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit. Hadits Riwayat Ahmad VI/438, 452, 453, 458.

Kedelapan, melakukan hubungan seksual


Hubungan seksual antara suami dan istri tidak mesti dilakukan pada saat pertemuan pertama tersebut, bisa dilakukan pada waktu-waktu setelahnya kapan saja yang memungkinkan. Pada prinsipnya, hubungan suami istri dilakukan ketika sudah ada kesiapan penuh dari kedua belah pihak. Apabila istri masih ada perasaan takut, cemas, dan khawatir, karena belum terbangun suasana yang enak di antara keduanya, sebaiknya hubungan suami istri ditunda sampai ada suasana yang kondusif. begitu juga jika pihak suami merasakan hal yang sama. pada intinya sampai keduanya merasa siap. dan boleh di lakukan kapan saja, tidak mesti harus di malam pertama.

Apabila suasana mental keduanya telah siap, keduanya bisa meningkatkan kedekatan secara lebih intim, disertai dengan cumbu rayu sebagai sebuah pengantar untuk melakukan hubungan suami istri. Itulah fasilitas yang Allah berikan kepada suami dan istri bahwa mereka berdua bisa saling menikmati keindahan-keindahan ciptaan Allah dari diri pasangannya.

Allah Swt. telah berfirman, "Istri-istri kalian itu seperti sawah ladang kalian maka datangilah ladang kalian itu dari arah mana pun yang kalian suka" (Al-Baqarah: 223).


Ayat ini menunjukkan kebebasan dalam bersenang-senang antara suami dan istri sehingga mereka berdua bisa mengekspresikan kegembiraan secara optimal. Islam menghendaki hubungan suami istri adalah bagian yang utuh dari ibadah, sehingga diperlukan sejumlah etika di dalam menunaikannya. bukan sembarangan tanpa aturan.

Di antaranya adalah dengan doa yang dibaca oleh suami dan istri sebelum mereka melakukan hubungan. Apabila hendak melakukan hubungan suami istri, hendaklah membaca doa berikut. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,

"Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do'a: Bismillah. Allahumma jannibnasy syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana. (Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami), kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya". Hadits Riwayat Bukhari no. 141, 3271, 3283, 5165, Muslim no. 1434, Abu Dawud no. 2161, at-Tirmidzi no. 1092, ad-Darimi II/145, Ibnu Majah no. 1919, an-Nasa-i dalam 'Isyratun Nisaa' no. 144, 145, Ahmad I/216, 217, 220, 243, 283, 286.

Kesembilan, Jika Istri sedang Haid

Jika sang suami ingin berjima’ dengan istri, namun sang istri sedang haid maka ia boleh bercumbu dengan istrinya dengan syarat tidak pada kemaluannya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang maknanya: “Lakukanlah apa saja kecuali jima’ atau bersetubuh.
Hadist Shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 302 dan Abu Dawud no. 257. Dan dibawakan oleh sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

Kesepuluh, Jika ingin mengulangi berhubungan seksual


Jika ingin mengulangi berhubungan (biasanya sih pengantin baru ^_^), maka disunnahkan untuk berwudhu atau mandi wajib. Pendapat terkuat dari mayoritas para ulama adalah dilakukan oleh suami saja.

Dan terakhir bagi suami-istri sebelum tidur pastikan sudah dalam kondisi mandi wajib atau paling tidak dalam kondisi ber wudhu

Demikianlah sunnah yang dilakukan pengantin pada malam pertama. Selamat bersenang-senang menikmati keindahan malam pengantin yang halal dan penuh pahala serta keberkahan.

Bahan Bacaan

1. Cahyadi Takariawan, Wonderful Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017
2. Syaikh Nashiruddin Al Albani, Bagaimana Anda Menikah? Gema Insani Press, Jakarta, 1998

disadur dari https://www.kompasiana.com/pakcah dengan sdikit perubahan
Kingramli
Kingramli Kabag. PDDikti Univ. Muhammadiyah Mataram

Post a Comment for "Malam Pertama Sesuai Sunnah ?"